Header Ads

PROFIL

Dikeluarkannya Sabda Tama, Sabda Raja, dan Dhawuh Raja oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X pada tahun 2015 telah menimbulkan polemik di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Hal tersebut terjadi karena isi ketiga Sabda dan Dhawuh Raja tersebut telah melanggar Paugeran yang diterapkan sejak Kasultanan ini pertama kali didirikan oleh Sultan Hamengkubuwono I.

Beberapa di antaranya adalah dihilangkannya gelar Khalifatullah di dalam gelar Sultan Yogyakarta yang baru; digantinya Buwono menjadi Bawono; dan diangkatnya GKR Pembayun (Putri Sultan Hamengkubuwono X) sebagai GKR Mangkubumi yang notabene merupakan gelar putra mahkota. Padahal selama ini dalam Paugeran Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Sultan selalu laki-laki.

Tidak hanya Rayi Dalem (adik-adik Sultan) yang secara tegas menolak ketiga produk kebijakan Sultan tersebut, tapi juga Kawulo Mataram Islam yang merupakan warga masyarakat Ngayogyakarta Hadiningrat, yang akhirnya membentuk puluhan elemen, antara lain: Majelis Permufakatan Rakyat DIY, Majelis Huffaz, Keris Jati, Pejuang Tolak Sabdorojo, Pejuang Khalifatullah, Elemen Kereta Mini, Pejuang Ijab Qobul, Pejuang Save Mataram Islam, Senopati Mataram, Densus 99 Mataram Islam, Seniman Malioboro, Forinba Jakarta, Forsib Budaya Imogiri, dan Paswada.

Bahkan, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DIY juga dengan tegas menolak Sabda Tama, Sabda Raja, dan Dhawuh Raja tersebut, karena telah mengubah Paugeran sebagai foundasi Kasultanan Mataram Islam.

Karena adanya kegelisahan yang memuncak atas situasi di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat itulah Kawulo Mataram Islam yang berasal dari berbagai organisasi dan kelompok masyarakat, maupun pribadi kembali sepakat membentuk sebuah organisasi yang bernama Pejuang Mataram Islam Daerah Istimewa Yogyakarta. Organisasi ini memiliki tujuan menegakkan Paugeran dan Mengabadikan Kasultanan Mataram Islam secara benar dan kaaffah.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Pejuang Mataram Islam DIY telah dan sedang melaksanakan berbagai agenda kegiatan, di antaranya Sarasehan Jumat di Masjid-Masjid Kagungan Dalem se-DIY untuk memahamkan kepada masyarakat tentang persoalan yang terjadi di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat saat ini, dan mendoakan Sri Sultan Hamengkubuwono X agar kembali kepada Paugeran Mataram Islam. Di setiap sarasehan menghadirkan Trah Hamengkubuwono I – IX, putra Hamengkubuwono IX, kyai, alim ulama, dan tokoh masyarakat DIY.

Selain itu, untuk memperluas kegiatan sosialisasi dan kampanye, pada pertengahan Ramadhan 1438 H/ Juni 2017, Pejuang Mataram Islam DIY secara resmi meluncurkan website informasi www.paugeran.com yang menjadi media publikasi organisasi untuk memudahkan masyarakat menjangkau informasi terkait polemik Sabda dan Dhawuh Raja.

Struktur organisasi Pejuang Mataram Islam DIY

Koordinator Umum: Tas’an

Koordinator Website Paugeran.com: Sri Yadi

Untuk informasi dan tulisan-tulisan dapat dikirimkan ke email: paugeranjogja@gmail.com
Diberdayakan oleh Blogger.