Header Ads

Otak-atik UU Keistimewaan DIY Jadi Kegelisahan Pejuang Mataram Islam



YOGYA - Upaya mengotak-atik Undang-undang Keistimewaan DIY membuat beberapa masyarakat Yogyakarta merasa gelisah.
Muhammad Suhud, Koordinator Lapangan Pejuang Mataram Islam (PMI) merasa hal itu dilakukan hanya untuk kepentingan individu atau kelompok.

"Itu syahwat pribadi, Sultan tidak punya keturunan laki-laki, itu supaya keturunan Sultan meneruskan tahta," kata Suhud kepada Tribunjogja.com, Senin (30/10/2017).
Suhud mengatakan munculnya upaya itu mencederai UU Keistimewaan DIY yang semuanya bukan menjadi kepentingan warga Yogyakarta.

PMI melalui Suhud merasa di kemudian hari UU Keistimewaan DIY dan Paugeran Adat Mataram ini akan terancam, yaitu diselewengkan dari maksud semula dan dimanfaatkan untuk kepentingan yang kurang terpuji.

Hal inilah yang menjadi inisiatif PMI untuk melakukan aksi mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta disertai dengan dzikir.
"Supaya mengingatkan Sultan," kata Suhud.

Massa aksi PMI yang melakukan longmarch berlangsung secara tertib dan aman serta tidak ada lontaran kalimat provokatif.
"Semoga Sultan diberi mata hari yang bersih, objektif, dan dia kembali ke aturan Keraton yang sudah ratusan tahun," kata Suhud kepada Tribunjogja.com. (*)

Sumber: Tribun Jogja

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.