Header Ads

YANG TERLUPAKAN PENGANGKATAN HB X (Bag. II)


Sultan HB IX Mengarahkan Suksesi Kasultanan Mataram Islam Jogjakarta
Sedulur Sabrang : Mengingat berbobotnya kenegarawanan Sultan Hamengku Buwono IX, kami menduga beliau pasti memberikan arahan ke depan keberlangsungan Kasultanan Jogjakarta. Bagaimanakah arahan beliau, khususnya tentang pergantian sultan?
Kawula Mataram : Perlu diketahui Sultan HB IX memiliki 4 istri yang sifatnya setara tanpa pengkhususan sebagai permaisuri. Sangkaan banyak orang bahwa raja selalu menunjuk putra mahkota sebagai calon penggantinya berlaku pula pada Sultan Hamengku Buwono IX. Kenyataannya, beliau tidak menetapkan
salah satu dari pangeran-pangeran atau anak-anaknya sebagai putra mahkota yang nanti dipersiapkan untuk menduduki kepemimpinan Kasultanan yaitu Sultan yang ke-10.Untuk itu kita perlu mengenang kembali dialog antara Sultan HB IX  dengan anaknya, Herjuno Darpito yang bergelar KGPH  Mangkubumi, 30 Aguatus 1988.[1]
Sultan HB IX : “Mas Jun pilih mulya atu mukti?”
KGPH Mangkubumi : “Mukti.[2] Saya memilih mukti, bukan mulya. Mukti mungkin membuat saya tidak punya apa-apa, tapi keberadaan saya bermanfaat bagi masyarakat. Kalau mulya, mungkin saya kaya, tapi bukan untuk lingkungan, melainkan hanya untuk keluarga saya.”
Sultan HB IX : “Mas Jun, kamu mau berjanji kepada saya untuk mengayomi semua orang biarpun orang itu tidak senang kepadamu?”
KGPH Mangkubumi ; “Saya bersedia.”
Sultan HB IX : “Mas Jun, kamu berani tidak melanggar aturan Negara dan lebih berani mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah?”
KGPH Mangkubumi : “Kenapa ada kata lebih? Lebih  berani daripada siapa?”
Sultan HB IX : “Lebih berani dari pada saya.”
Sultan HB IX : “Kamu berjanji tidak punya ambisi apa pun kecuali mensejahterakan rakyat?”
KGPH Mangkubumi ; “Bersedia.”
Setelah Bapak Herjuna Darpita bersedia menerima wasiat tersebut, maka Sinuwun HB IX mengingatkan kepada calon penggantinya tersebut dengan ucapan, “Jika engkau memenuhi janji ini, janganlah engkau mencari diriku, sebab aku selalu di sampingmu. Namun, jika engkau mengkhianati janji ini, maka janganlah engkau mencari diriku, sebab aku sudah pasti meninggalkanmu.” Demikian yang tertulis di buku Inspiring Prophetic Leader, halaman 82.
Ketentuan dari suksesi (pergantian) sultan tersebut ditulis dalam Undang Angka 1/KHSW/88 Bab Babakan ingkang Nindakake Panguwahos Dalem Paprintahan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.[3]
Lantas dilanjutkan musyawarah keluarga besar Sultan Hamengku Buwono IX, yang terdiri dari putra putri  HB IX  dari ibu-ibu yang berbeda yang menjadi saudara-saudara dari KGPH Mangkubumi dan istri-istri HB IX.  Musyawarah yang diselenggarakan di Jogjakarta pada hari Senin Pahing, 9 Januari 1989 tersebut menghasilkan mufakat berdasarkan adat untuk mengangkat KGPH Mangkubumi sebagai Sultan HB X.[4]
Ketentuan dari suksesi (pergantian) sultan tersebut ditulis dalam Undang Angka 2/KHSW/89 Bab Ingkang Nglintir Keprabon Dalem Suwargi Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Ingkang Jumeneng Kaping IX.[5]
Sumber : Ahmad Sarwono, DR. Sulistyono, Heru Syafruddin Amali, MPd.I., Merajut Mataram untuk Indonesia (Jogjakarta: Shalahuddiningrat, 2017),  hlm. 47-50.



[1] Disampaikan dalam legal dialog dengan Takmir Masjid Kagungan Dalem se DIY di Bangsal Sri Manganti, Sabtu 25 Februari 2017.
[2] Secara leksikon, maksud kata mukti yang diucapkan KGPH Herjuna Darpita terbalik. Dalam kamus Bahasa Jawa, kata mukti (moekti)  dari bahasa Kawi berarti ngrasaake (merasakan), mangan  (menyantap makanan). Mukti wibawa artinya ngrasaake kesenengane ngaurip (menikmati  kesenangan hidup), ora kekurangan opo-opo (tidak kekurangan suatu apapun). Dimuktikake : disenengake uripe artinya disenangkan hidupnya. Lihat Kamus Bausastra.
[3] Sumber: Catatan KRT. H. Jatiningrat, SH.alias Romo Tirun membacakan catatan tersebut dalam Sarasehan Safari Jumat Masjid Kagungan Dalem di beberapa tempat.
[4] Bertepatan tanggal 1 Jumadil Akhir Tahun Wawu 1921 Jawa. Berdasarkan catatan KRT H. Jatiningrat, SH. Beliau adalah saudara sepupu KGPH Herjuna Darpita yang bertemu nasabnya kepada Sultan HB VIII. Catatan tersebut disampaikan dalam Sarasehan Jumat di Masjid Kagungan Dalem.
[5] Sumber: Catatan KRT. H. Jatiningrat, SH.alias Romo Tirun membacakan catatan tersebut dalam Sarasehan Safari Jumat Masjid Kagungan Dalem di beberapa tempat.




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.