YOGYA, KRJOGJA.com - Sarasehan Safar Jumat Masjid Gede Kasultanan Yogyakarta kembali digelar Jumat (15/9/2017) siang di Masjid Gede Kauman. Diikuti masyarakat yang menyatakan diri sebagai Paguyuban Penegak Paugeran Adat (PPPA) dengan tauziah utama dari Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY KH M Thoha Abdurrahman, sarasehan tersebut menyepakati bahwa Sultan yang bertahta harus tetap melestarikan apa yang tertuang dalam Undang-Undang Keistimewaan nomor 13 tahun 2012 secara murni dan konsekuen.
Ketua MUI DIY KH Thoha Abdurrahman mengatakan bahwa pihaknya telah cukup lama mengingatkan agar Kasultanan tetap melestarikan budaya Kraton sejak masa Hamengkubuwono I sesuai ajaran agama Islam. Meski mengaku tak ingin mencampuri secara langsung suksesi raja, namun Thoha mengungkap bahwa seorang Sultan haruslah laki-laki.
"Kalau gubernur boleh laki-laki atau perempuan tapi kalau raja Kraton sesuai tradisi dan paugeran yang dituangkan dalam UUK ya harus laki-laki. Ini sudah disampaikan MUI sejak dua tahun lalu tepatnya 2015," ungkapnya.
MUI sendiri mengaku tak bakal mencampuri urusan internal Kraton dan hanya akan mendoakan agar Sultan mendapat hidayah tetap mempertahankan tradisi sesuai prinsip agama Islam yakni Al Quran dan Hadist. "Kalau saya hanya bisa mendoakan agar Ngarsa Dalem mendapat hidayah, menyelesaikan polemik sesuai apa yang disampaikan Al Quran dan Hadist," sambungnya.
Sementara Condro Purnomo dari PPPA mengungkap tema suksesi sengaja diangkat dalam sarasehan ke-32 hari ini. Menurut dia, saat ini di masyarakat masih dikenal dua nama sultan yakni Bawono dan Buwono.
"Dawuh Dalem saat Grebeg Besar kemarin masih menggunakan Bawono, dan di Kepatihan saat menjadi gubernur Buwono. Permasalahan ini yang belum clear," ungkapnya.
Meski demikian, Condro mengungkap bahwa penyelesaian permasalahan tersebut adalah kewenangan internal Kraton yang terdiri dari Sultan, putera-puteri Sultan HB IX dan puteri Sultan HB X. "Kami hanya bisa mendoakan agar penyelesaian tetap mengedepankan ajaran Islam dan paugeran Kasultanan Islam Ngayogyakarta Hadiningrat," pungkasnya. (Fxh)