Header Ads

RAKYAT YOGYA MENDIRIKAN PAGUYUBAN PENEGAK PAUGERAN ADAT

 

Gusti Prabukusumo saat didaulat rakyat di Masjid al-Wustha, 
Jum’at 8 September 2017

      YOGYAKARTA (paugeran.com) – Rakyat Yogyakarta bersama gusti-gusti, sentono dalem, darah dalem, abdi dalem, takmir dan jamaah masjid-masjid kagungan dalem, alim-ulama, santri-santri, pelajar-mahasiswa maupun cendekiawan maupun masyarakat luas senantiasa mengadakan Sarasehan Safar Jum’at di masjid-masjid pathok negara, masjid-masjid kagungan dalem, maupun masjid-masjid pada umumnya. Bahkan sarasehan ini amat serius “mengumpulkan balung pisah” paseduluran ummat diberbagai daerah yang terdapat masjid kagungan dalem. Sarasehan ini pernah juga diselenggarakan di Masjid Kagungan Dalem di Pacalan, Magetan, Jawa Timur.
 


      Sarasehan Safar Jum’at diselenggarakan berdasarkan Pranatan Dakwah Masjid Kagungan Dalem Sulthan Mataram Islam Ngayogyakarta Hadiningrat yang dirumuskan melalui musyawarah yang disepuhi oleh abdi dalem KMT Condro Purnomo di Dalem Yudhonegaran, 17 April 2017, yakni : (1). Mengawal Paugeran Adat atau ‘Urf Kasultanan Mataram Islam Ngayogyakarta Hadiningrat berdasarkan Islam secara murni dan kaaffah dengan meningkatkan iman takwa bagi diri sendiri, gusti, putra dalem, sentana dalem, darah dalem, abdi dalem, maupun ummat Islam pada umumnya. (2). Memberikan pijakan bergerak bagi Pemangku Wilayah, seperti Dukuh, Lurah, dan sebagainya. (3). Tidak memihak semua golongan yang terlibat pro dan kotra politik. (4.) Bersifat amar ma’ruf, bukan nahi mungkar. (5). Membangun suasana rukun saudara, bukan menyulut perang saudara. (6). Membentengi kaum Muslimin dari pemurtadan, bukan mengungkit khilafiyah dalam tubuh ummat Islam. (7). Mandiri dalam bergerak, tidak transaksional atau tidak meminta upah.

Adapun Sarasehan Safar Jum’at putaran ke-32 diselenggarakan di Masjid al-Wustha Srandakan, Bantul menjadi tonggak bersejarah penegakkan paugeran adat yang telah diakui oleh segenap rakyat Yogyakarta secara turun temurun. Pada akhir acara sarasehan kali ini adalah dialog untuk mendengar aspirasi rakyat Yogyakarta yang telah siap menerima komando (nyadhong dhawuh) demi tegaknya Paugeran Adat (‘urf) Kasultanan Mataram Islam Ngayogyakarta Hadiningrat dari berbagai pihak yang hendak merusaknya.

Semua hadirin pada hari itu mufakat bulat mendaulat Gusti Prabukusumo  putra negarawan besar Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Sesepuh Paguyuban Penegak Paugeran Adat (PPPA) Kasultanan Mataram Islam Ngayogyakarta Hadiningrat. 

Pendaulatan spontan tersebut mengagetkan Gusti Prabukusumo  yang mensikapinya dengan rendah hati (tawadhu’) namun tanpa penolakan. Dengan pendaualatan tersebut, rakyat mengharapkan tetap lestarinya Paugeran Adat yang dijiwai oleh nilai-nilai adiluhung Islam, yakni al-Qur’an, al-Hadits, ijma’, qiyas, dan adat (‘urf) yang telah mendarah daging diakui segenap rakyat.
 
Terhadap peristiwa bersejarah tersebut, ditemui di rumah kediamannya, Babarsari, Ketua MUI DIY , KH. DRS. Thoha Abdurrahman mensikapinya dengan kegembiraan, “Sultan Yogya harus lelaki, walaupun gubernur (di wilayah Republik Indonesia) boleh perempuan.” Senin pagi, 11 September 2017.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.