Header Ads

MANDITO SEBAGAI LANGKAH AKHIR SULTAN MENUJU KEMULIAAN DUNIA -AKHIRAT





Sedulur Sabrang: Kami ada pertanyaan menggelitik. Pertanyaan ini berangkat dari pengandaian saja dan tidak terkait dengan Kasultanan Jogjakarta. Misalkan, ada seorang wanita hamil disebabkan perzinaan, kemudian dari perzinaan tersebut melahirkan anak perempuan pula. Selang hitungan tahun, wanita pezina tersebut dinikahkan dengan seorang pangeran (anak raja).
Kelak kemudian hari, pangeran yang beristri seorang pezina tersebut diangkat menjadi raja. Setelah puluhan tahun berselang, wanita pezina yang telah menjadi istri raja tersebut membujuk suami (sang raja) agar anak putri dari perzinaannya diangkat menjadi raja. Bagaimana adat dan Islam memandang rencana pengangkatan anak zina tersebut menjadi raja?
Kawula Mataram: Berhubung pertanyaan tadi hanya berdasarkan dari pengandaian, maka kami tidak mau menjawabnya. Akan tetapi, seandainya itu adalah fakta dalam kehidupan kita, maka jelas akan merusak nasab, mencoreng keluhuran maupun norma adat adiluhung maupun peradaban manusia. Jika itu terjadi di Indonesia, jelas melanggar ke-lima sila luhur Pancasila. Orang yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa tidak mungkin berzina, sebab itu melanggar larangan Tuhan. Kawin tanpa ijab-kobul bukan tindakan manusia beradab, melainkan hanya pantas dilakukan oleh binatang. Sedangkan Pancasila menuntunkan Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Apabila tindak asusila tersebut diterima dengan dalih bhinneka menyebabkan polemik yang merusak Persatuan Indonesia. Tindakan asusila tidak mungkin sengaja direncanakan dengan hikmah kebijaksanaan apalagi dengan musyawarah sebelumnya di antara keluarga sepasang pelaku zina, melainkan sebagai kecelakaan yang disebabkan tindakan keburu nafsu. Jadi otomatis melanggar sila ke-4, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan. Tanpa pertaubatan, perzinaan pasti melahirkan kedzaliman baru terus menerus dari generasi ke generasi berikutnya yang menjauhkan dari sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Oleh karenanya organisasi dan lembaga keagaamaan apapun, lembaga pendidikan tinggi, kaum adat yang menjunjung tinggi moralitas, apalagi alim-ulama, komunitas pesantren wajib menolaknya secara tegas, agar Tuhan tidak mendatangkan bencana menghinakan yang tidak hanya menimpa pelaku kejahatan, melainkan ke seluruh masyarakat tanpa kecuali. Kehinaan tersebut ditegaskan di dalam al-Qur’an sedemikian rupa untuk masyarakat yang hanya ‘ewuh pakewuh’ dan diam melihat kemungkaran besar.
Namun demikian, Allah itu Maha Welas dan Asih kepada semua hamba-Nya yang mau mendekat. Allah Swt berulangkali berfirman dalam al-Qur’an dan Hadits Qudsi agar kita senantiasa bersegera mendekati ampunanan-Nya yang luasnya melebihi amarah-Nya selagi hayat dikandung badan. Justru hamba yang sedih dan cemas memikirkan dosanya lebih baik di sisi Allah Swt daripada hamba yang bangga dengan amal lebih yang banyak lengah tidak memohon ampunan-Nya. Kanjeng Nabi Muhammad Saw yang maksum saja beristighfar lebih dari 100 kali dalam sehari dan menghabiskan waktu-waktu malamnya  menumpahkan segala pengaduannya kepada-Nya di dalam shalat dan munajatnya.
Adapun tanda-tanda taubat seorang hamba adalah: (1). Menyesali dosa-dosa yang telah dilakukan dan memohon ampunan kepada Allah Swt, (2). Menutup aibnya secara rapat, (3) tidak mengulangi lagi dengan cara tidak berbuat dosa yang menyebabkan aibnya jadi terbongkar di tengah masyarakat, (4).  Memperbanyak amal shalih atau kebajikan, (5). Istiqamah memohon ampunan hingga ajal tiba.
Praktek yang paling mudah dalam pertobatan adalah mandita atau lengser keprabon, yakni meninggalkan hiruk-pikuk duniawi untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan amal-amal yang menyebabkan keridhaan Sang Khaliq, sebagaimana firman-Nya, “Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah yang benar. Maka Dia akan memperbaiki amalan kalian dan Dia akan mengampuni dosa-dosa kalian. Barangsiapa bertekad untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapatkan kejayaan yang besar.”

Sumber : 
Ahmad Sarwono, DR. Sulistyono, Heru Syafruddin Amali, MPd.I., Merajut Mataram untuk Indonesia (Jogjakarta: Shalahuddiningrat, 2017),  hlm. 74 - 76


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.