Header Ads

SABDARAJA DIBATALKAN PAUGERAN DAN UUK 13 TH 2012




UUK 13 -dan Rakyat Jogja hanya Mengakui Sultan Hamengku Buwono sebagai Sultan yang sah

Dengan rela hati, kawula Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat mengamanahkan hak memilih dan dipilih menjadi Gubernur DIY berdasarkan Paugeran Adat Kasultanan Mataram Islam Ngayogyakarta Hadiningrat yang dijiwai al-Qur;an dan al-Hadits, kesepakatan (ijma') ulama,  qiyas, dan adat istiadat ('urf) Islam. Paugeran Adat dijiwai oleh fatwa alim ulama ahlussunah menyepakati bahwa Sultan semestinya : lelaki, Muslim, dewasa (balligh), dan berkemampuan. 
 Oleh karenanya, dengan senang hati pula, masyarakat telah menerima gelar “Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat”, yang selanjutnya disebut “kasultanan” dijadikan warisan budaya bangsa yang berlangsung turun temurun dan dipimpin oleh “Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panotogomo Kalifatullah”, yang selanjutnya biasa disingkat, “Sultan Hamengku Buwono”.
Semua gelar Sultan Jogja yang memiliki makna dan fungsi pemerintahan tersebut sudah menjadi kesepakatan luhur dan  kokoh (mitsaqan ghalidzan) Kasultanan Jogjakarta dengan NKRI dalam UUK 13 Th 2012 yang tidak dapat diubah oleh Sultan Jogja maupun Mahkamah Konstitusi (MK). 
 Gelar adalah bagian dari Paugeran Adat Kasultanan Islam Ngayogyakarta Hadiningrat. Pemahaman arti daripada gelar tersebut adalah sebagaimana telah dijadikan materi pokok pawiyatan bagi abdi dalem kraton sebagai berikut:
1. Ngarsa Dalem: Yang dijadikan junjungan, pemuka/pembesar yang dijunjung tinggi.
2. Sampeyan Dalem: Yang diikuti langkahnya, dijadikan teladan, dijadikan tuntunan.
3. Ingkang Sinuwun: Yang dimuliakan dan selalu dimohon petunjuk dan kebaikannya jasanya.
4. Kanjeng : Yang sangat dihormati.
5. Sultan : Penguasa (kata ini disebut dalam Al-Qur’an 33 kali sebagai isim nakirah dan 2 kali dimudhafkan pada isim dhamir. Dan banyak hadits nabi yang menyebutkan kata ini)
6. Hamengku Buwono : Hamangku, Hamengku, dan Hamengkoni Jagad.
Hamangku : Mengedepankan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri, lebih banyak member daripada menerima.
Hamengku : Merengkuh semua pihak termasuk pihak yang tidak menyukainya. Ber budi bowo leksono.
Hamengkoni : Ngemong, menjadi suh bagi seluruh rakyat.
Ketiga sebutan tersebut dapat disingkat seorang sultan yang memiliki sifat dan watak “Gung binathoro, ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”
7. Senopati Ing Ngalaga: Panglima besar perang jihad, jihad besar (akbar) maupun jihad kecil (asghar). Jihad besar meliputi melawan hawa nafsu/kejahatan, keterbelakangan, kebodohan, dan kedzaliman.
8. Ngabdurrahman : Meskipun demikian, ia tetap menjadi hamba Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semua pengabdian dilakukan sebagai pengabdian kepada-Nya.
9. Sayidin Panotogomo: Sayid (pembesar, penghulu, bendoro, Yang Dipertuan Agung) dalam menata kehidupan beragama.
10. Khalifatullah : Wakil Allah (petugas Allah, pengemban amanat Allah, mandataris Allah di dunia).
(Sumber : Buku Merajut Mataram untuk Indonesia, Bab II, Penerbit Shalahuddiningrat, 2017)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.