Header Ads

MAKNA MASJID PATHOK NEGARA




1. Masjid Mengantarkan Kebangkitan Sultan dan Kasultanan Jogjakarta

Sedulur Sabrang : Apakah Paugeran dan Pranatan Masjid juga menjadi landasan kokoh bagi kebangkitan Sultan dan Kasultanan Mataram Islam Ngayogyakarta Hadiningrat. Benarkah demikian?
Kawula Mataram: Ya benar. Paugaran dan Pranatan Masjid Kasultanan Mataram Islam Ngayogyakarta Hadiningrat mengantarkankan setiap manusia mencintai Allah swt, Rasul-Nya Saw, dan perjuangan dijalan-Nya melebihi kecintaan manusia kepada selain ketiga hal itu. Dengan demikian setiap orang, termasuk Sultan sekeluarga, trah sultan HB I hingga HB IX, abdi dalem maupun semua orang di dalam Kraton Kasultanan Jogjakarta akan meletakkan cinta mereka kepada Allah Swt, Rasul Saw, dan perjuangan di jalan-Nya melebihi kecintaan mereka kepada delapan hal duniawi. Kedelapan hal duniawi tersebut adalah: (1) bapak-bapak (leluhur) mereka; (2) anak-anak (keturunan) mereka; (3) permaisuri atau istri-istri mereka; (4) rekan atau kroni mereka; (5) sanak-kerabat mereka; (6) harta kekayaan mereka;  (7) perusahaan atau kegiatan bisnis mereka; maupun (8) keraton atau tempat tinggal mereka sebagaimana digambarkan oleh Kanjeng Sunan Kalijogo melaui tokoh pewayangan Prabu Ngamarto atau Yudhistira alias Puntadewa.
Jika kita memandang mihrab Masjid Agung Keraton Ngayogjyakarta lebih mendalam, akan tampak nama Sidna Husein anak Sidna ‘Ali bin Abu Thalib. Ia berhasil mengkader anaknya menjadi Imamnya para ahli ibadah, yaitu Sidna ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Husein bin ‘Ali bin Abu Thalib rahmatullah ‘alaih. Sidna ‘Ali Zainal ‘Abidin  mengingatkan bahwa penyakit manusia yang paling berbahaya adalah cintanya kepada Allah Swt, Rasul-Nya, dan perjuangan di jalan-Nya dikalahkan oleh : cinta kehidupan dunia lupa akhiratnya (hubbud-dunya), cinta harta kekayaan (hubbul-maal), cinta kemasyhuran / kedudukan (kehubbul-jah), cinta wanita (hubbun-nisa’), dan cinta jabatan (hubbur-riyasah).
Sebaiknya ketidakselarasan pendapat di kalangan putra-putri Sri Sultan HB IX yang sekarang berjumlah 12 lelaki dan 4 perempuan segera merapatkan diri mengadakan musyawarah berdasarkan makna yang terkandung pusaka paling sakti mihrab Masjid Agung Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Kini, semua putra-putri Sultan HB IX sudah berusia tua dan sisa umurnya tidak lama lagi. Jika semua putra-putri Sri Sultan HB IX berpikir lebih jauh melewati tugu Mutakallimin Wahid terus menembus alam Gunung Merapi sebagai lambang alam kelanggengan akhirat, maka akan mampu berpikir dan bertindak bijak, cerdas, bener lan pener sebagaimana sabda Kanjeng Nabi Muhammad Saw, “Al-Kayis (orang jenius yang bener lan pener) adalah orang yang pandai mengekang nafsu rendahnya (dari 8 rayuan duniawi) dan sibuk beramal shalih untuk bekal yang akan dibawa mati.”  
Ketika Sultan HB X sekeluarga dan kelima belas putra-putri Sultan HB IX yang masih hidup lebih saat ini menyadari makna Bangsal Witono, maka mereka akan miwiti (memulai) mengedepankan kecintaan kepada Allah Swt, Rasul Saw, dan perjuangan di jalan-Nya melebihi delapan  hal duniawi tersebut, maka mereka dipandang oleh Allah Swt sebagai manusia yang pantas dan berhak mendapatkan “wahyu” atau hidayah (petunjuk) dari Allah Swt. Perlu diketahui bahwa Allah Swt sudah menetapkan “wahyu” atau hidayah itu hanya diberikan kepada hamba-Nya yang sudah mempunyai wadhah atau tempat menampung hidayah, yakni hati yang bersih dari pengaruh 8 hal duniawi. Dengan demikian Sultan Jogja dan saudara-saudaranya dari anak Sultan HB IX  yang berjumlah 15 orang akan mudah berkomunikasi untuk mengadakan musyawarah demi kelestarian keistimewaan Kasultan Jogjakarta. Dengan langkah bener lan pener tersebut maka kalangan ring satu (putra-putri Sultan HB IX) mendapatkan hidayah menentukan siapa Sultan HB XI secara musyawarah untuk mencapai mufakat.
Hanya dengan satu jalan tersebut yakni Sultan Jogja dan semua adik-adiknya berlomba mencintai Allah Swt, Rasul-Nya, dan perjuangan di jalan-Nya, sehingga ‘wahyu’ atau hidayah-Nya tetap bersemayam di Kasultanan Jogjakarta. Dengan hidayah tersebut, maka orang-orang pilihan tersebut mampu membenahi Kasultanan dari ulah benalu kasultanan yang mengandung dan mengundang sial.
Sebaliknya, bagi mereka yang hatinya masih dikuasai oleh 8 hal duniawi tersebut dipandang oleh Allah Swt sebagai kaum fasikin, artinya kaum yang hatinya busuk disebabkan oleh kecintaan mereka kepada 8 hal duniawi melebihi kecintaan kepada Sang Khaliq, Rasul-Nya, maupun perjuangan di jalan-Nya. Tegasnya Allah Swt sudah membuat keputusan tidak memberikan memberikan ‘wahyu’ atau hidayah kepada kaum fasikin.
Katakanlah, "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjuang di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.
Sedulur Sabrang: Selamat berjuang Kawula Mataram Islam Yogyakarta, Allah senantiasa bersama-sama hamba-hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya. Bukankah Allah Swt berfirman, “Intanshurullah yanshurukum, wa yutsabit aqdamakum…” Jika kalian menolong agama Allah, pasti Dia akan menolong kalian. Bahkan Allah  pasti mengokohkan kedudukan kalian.”
Kawula Mataram : Matur sembah nuwun, Jazakumullah khairal jaza!

(sumber : Ahmad Sarwono bin Zahir, Merajut Mataram untuk Indonesia, hlm. 285-288, Shalahuddin Media, 2017)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.