Header Ads

LARUNG FIR’AUN KE LAUT



Jika Peringatan Ditolak, Tuhan Akan Melarungnya

 https://www.google.com/search?q=fir%27aun&client=firefox-b&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwirubi_7ZHVAhWGj5QKHSv6C-UQ_AUICigB&biw=1366&bih=669#imgrc=-gT6JrQclUUgeM:

Semenjak raja Fir’aun bermimpi buruk, maka ia senantiasa gelisah jika kehilangan kerajaannya. Hanya satu pikiran di dalam hatinya, bagaimana kerajaannya tetap menjadi miliknya selamanya. Maka para malak, yaitu pembisik busuk raja yang terdiri dukun-dukun, ahli nujum, dan politikus memperparah kegelisahan raja dengan mengusulkan agar setiap bayi lelaki dibunuh.
Para pembisik busuk memblusukkan sang raja dalam blunder, yakni mengatasi masalah dengan membuat masalah yang lebih besar. Pada dasarnya, mereka itu justru menjadi benalu pohon kerajaan Fir’aun yang justru akan mematikan kerajaan itu sendiri. Akibatnya, sang raja mengeluarkan sabdaraja untuk membunuh semua bayi lelaki di negeri itu.

Akibat dari sabdaraja, sekian banyak ibu hamil di negeri itu menjadi cemas setelah berlakunya sabdaraja tersebut. Salah seorang di antaranya bermunajat kepada Allah Swt dan diilhamkan kepadanya agar melarung bayi lelakinya itu  dengan diletakkan di peti ke Sungai Nil.
Ternyata bayi itu ditemukan oleh istri Raja Fir’aun dan dibawa pulang ke kraton. Kontan sang raja pun terkesimak dan bathinnya tetap berkata, “Ini pasti bayi yang aku mimpikan dan yang akan menghancurkan kerajaanku.” Maka sang raja pun berkehendak menjalankan sabdanya sendiri  untuk membunuh bayi lelaki mungil itu.

Rupanya sudah menjadi kebiasaan raja penguasa di muka bumi hanya dapat dikalahkan oleh istri tercintanya saja. Ketika sang istri mengetahui gelagat buruk tersebut, maka cepat-cepat ia meyakinkan suaminya sambil mengucapkan, “Laa taqtul!” dengan rayuannya, “Jangan engkau bunuh bayi elok ini, wahai Rajaku tersayang.” Maka bayi itu pun tumbuh hingga dewasa dikenal dengan nama Musa. Sebenarnya, hati kecil sang raja menyadarinya, akan tetapi selalu tidak berkutik menghadapi istrinya tersayang yang terkenal cantik jelita itu.

Setelah tahun berganti dan Musa pun tumbuh dewasa. Karena suatu insiden yang tidak dikehendaki, Musa melarikan diri dari kraton menuju Madyan. Akhirnya ia menyantri kepada Nabi Syu’aib. Setelah genap 10 tahun menjadi santri, ia dinyatakan lulus sekaligus menjadi menantunya Nabi Syu’aib. Kemudian, Allah Swt memberikan tugas kepada Nabi Musa agar mengingatkan bapak angkatnya, sang raja Fir’aun. Sang raja sudah kebangeten keblinger-nya, sudah ndak mau sembahyang maupun peribadatan kepada Sang Maha Raja, bahkan rakyatnya diperintah agar menyembahnya. Sang raja merasa menjadi super power, paling berkuasa, ia merasa poleksosbud-hankam sudah di tangannya. Bahkan sudah mengidap megalomania akut. Semua rakyatnya harus tunduk patuh 1.000% dalam semua hal kepada raja, baik benar ataupun salah. The King can’t do no wrong.

Maka Nabi Musa pun didampingi Nabi Harun mengingatkan Fir’aun. Kedua nabi tersebut hanya berbekal pertolongan dari yang mengutus dan  sendika dhawuh serta sak dermo nglampahi dhawuh Sang Maha Raja. Keduanya mengingatkan dengan lemah-lembut (qaulan-layyinan). Namun setelah berkali-kali peringatan diabaikan sang raja, bahkan dianggap beroposisi dan membuat makar, maka kedua nabi beserta pengikutnya akan ditangkap untuk dibinasakan.

Nabi Musa dan Nabi Harun beserta pengikutnya yang dari kalangan sipil tidak bersenjata dikejar hingga laut Merah. Depan terbentang lautan luas. Sedangkan raja Fir’aun beserta bala tentaranya mengejarnya semakin dekat. Semua pengikut Nabi Musa semakin panik. Di tengah kepanikan para pengikut, Nabi Musa menegaskan, “Allahu maa’i.” Tenanglah, Allah besertaku. Kemudian Nabi Musa mendapatkan wahyu agar memukulkan tongkatnya ke laut Merah. Maka Allah Swt menolong mereka dengan menyibakkan lautan menjadi 12 lorong air yang dapat dimasuki ke-12 suku Bani Israel tersebut. Akhirnya, kedua nabi beserta pengikutnya selamat dari penangkapan sang raja Fir’aun.

Sang raja Fir’aun hanya ndomblong melihat kejadian aneh tersebut.  Ia pun bimbang, antara melanjutkan pengejaran atau berhenti di tepian pantai laut Merah. Namun nafsu serakah dan ingin berkuasa tak dapat dikendalikannya. Fir’aun mengejar dan memerintahkan wadyabala tentaranya agar mengejar kedua nabi beserta pengikutnya hingga tertangkap.

Akhirnya, terjadilah apa yang semestinya terjadi. Sang raja serakah dan keblinger meneruskan pengejarannya. Dan laut Merah pun menyambutnya dengan gelombang besar menenggelamkan Fir’aun dan pasukannya. Dengan demikian, Fir’aun me-larung-kan diri dan benalu kraton di laut Merah. Fir’aun dan bala tentaranya tenggelam dan tewas di laut Merah, kemudian jasad raja tersebut dilemparkan kembali ke daratan.

Setelah di darat dibuat mumi hingga sekarang. Disebabkan kemungkarannya yang sedemikian dahsyat, laut dan bumi pun tidak mau menerimanya. Hingga detik ini pun, tiada warga Jogja bahkan Indonesia yang ingin memberikan nama anak-cucunya dengan nama Fir’aun.

Kiriman : Kawula Dasih

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.