Header Ads

JOGJA SERAMBI MADINAH



A. Tim Bukhoren: Indentifikasi, Visi, dan Semangat Serambi Madinah 

 

Paparan sekelumit tentang Madinah mengantarkan kita kepada wacana bahwa Yogyakarta adalah Serambi Madinah. Para sesepuh, cendekiawan, dan alim-ulama yang tergabung dalam Tim Bukhoren Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat
yang diketuai oleh GBPH H Joyokusumo sebagai Penanggung Jawab Umum; KH Aliy As’ad sebagai Penanggung Jawab Materi; dan HM Afandi, MPd.I sebagai Penanggung Jawab Teknis. Adapun Penangung Jawab Umum merupakan pihak yang mendapatkan titah dan arahan dari Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Ngalaga Ngabdurahman Sayidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping Sedasa Ing Ngayogyakarta Hadiningrat.
Tim Bukhoren ini merumuskan Ngayogyakarta Serambi Madinah dan telah mengumumkannya di Masjid Gedhe Yogyakarta, 16 Agustua 2008 M bertepatan 14 Sya’ban 1429 H.  Berikut ini rumusannya:

1. Definisi Serambi Madinah
Serambi Madinah adalah sebutan untuk Ngayogyakarta Hadiningrat. Sebutan ini telah mempresentasikan karakter sosial, budaya, keagamaan yang hidup dan berkembang secara riil, sehingga menggambarkan sosok khittah Ngayogyakarta Hadiningrat yang hakiki.
Ngayogyakarta Serambi Madinah ini bukan partai, bukan ormas, dan bukan organisasi apapun juga bukan bagian dari struktur Pemerintah. Ia merupakan sebutan yang terekspresikan dari luapan cita rasa adiluhung yang mengental dalam diri masyarakat Ngayogyakarta tentang jatidiri mereka.

2. Tujuh Identifikasi Kesamaan Madinah dengan Ngayogyakarta
a) Sejiwa dengan Piagam Madinah yang berisi penguatan masyarakat plural yang aman dan damai dalam disiplin dan identitas keagamaan yang jelas.
b) Pusat pengembangan peradaban dengan ilmu pengetahuan dan budaya
c) Bersatunya kaum Muhajirin (transmigran) dan Anshar (pribumi) yang hakiki, artinya masyarakat Bhinneka Tunggal Ika dalam dalam kehangatan ukhuwah yang tulus dan sejati.
d) Kawah Candradimuka untuk mencetak tokoh-tokoh besar.
e) Tempat perlindungan bagi orang yang teraniaya.
f) Wilayah pengembangan  nilai-nilai tradisional religius.
g) Karakter masyarakat yang aman dan sopan.

3. Delapan Visi Serambi Madinah
a) Agama adalah anugerah Allah swt untuk membimbing para hamba-Nya agar mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
b) Nikmat dan rahmat Allah swt amat banyak telah dilimpahkan pada hamba-Nya, maka haruslah disyukuri dan digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat dan diridhai-Nya.
c) Menyadari kehidupan hari ini adalah kelanjutan dari suatu proses yang telah berjalan panjang, maka di samping menghargai jasa-jasa  dan prestasi para pendahulu, kita juga harus melanjutkan dan mengembangkannya secara kreatif sebagai amanat amal jariyah.
d) Menyadari akan keterbatasan setiap manusia maka mewujudkan generasi pelanjut yang lebih berkualitas adalah suatu keharusan yang tidak boleh diabaikan.
e) Untuk mewujudkan kehidupan yang berkualitas, maka kebodohan dan keterbelakangan harus diperangi. Oleh karena itu pendidikan mempunyai arti penting yang mutlak, baik pendidikan formal, informal, maupun non formal.
f) Sebagai masyarakat yang berbudaya adiluhung, maka faktor moral dan akhlakul karimah menjadi bingkai utama yang kokoh dan tegas dalam tatanan kehidupan sehari-hari.
g) Agar tidak menjadi beban pada pihak lain dan demi menjaga muru’ah (harga diri), maka jiwa adiluhung mengharuskan setiap pribadi memiliki penuh semangat dalam bekerja, berprestasi dan berjasa, tanpa mengabaikan tugas-tugas ritual keagamaannya.
h) Sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan dalam menunaikan tugas dan kehidupan, maka dalam pergaulan harus saling menghormati, membantu, rukun dan tenggang rasa.

4. Sepuluh Semangat Serambi Madinah
a) Takwa beragama.
b) Rukun dan hormat serta gotong royong dalam bermasyarakat.
c) Bersikap ramah dan sopan dalam bergaul.
d) Hidup dengan landasan ilmu dan penuh amal serta pengabdian.
e) Mewujudkan keluarga yang harmonis dalam mawaddah dan rahmah.
f) Mempersiapkan keturunan (anak cucu) sebagai generasi pelanjut yang lebih berkualitas.
g) Nguri-uri nilai-nilai lama yang bermanfaat dan mengembangkannya secara selektif, sekaligus kreatif dan inovatif.
h) Menghargai jasa-jasa pendahulu/leluhur dan meneladaninya, serta menghargai  setiap prestasi yang bermanfaat bagi kehidupan.
i) Membangun karakter dan moral masyarakat dengan amar ma’ruf nahi mungkar secara bermartabat.
j) Etos kerja yang tinggi untuk mencapai prestasi dalam bingkai tawakkal dan do’a.

(Sumber : Ahmad Sarwono bin Zahir, Sabda Raja HB X dalam Timbangan Revolusi Karakter Istimewa, hlm. 109-112. Aswaja Pressindo, 2015)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.